Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomeSelamat Datang di...Jan 30, 2009

Blog EntryAug 21, '10 11:10 AM
for everyone

alam selalu baik pada manusia. sebelum ia mengamuk, pasti ia kirimkan sinyal-sinyal simbolik pada akal manusia. sebelum alam men-tsunami di aceh pada 2004 lalu, ia mengirim pesan "eling lan waspada" menggunakan awan aneh yang menggumpal-gumpal melayang di angkasa aceh. ini persis seperti gempa jogja 2006 silam. sebelum hujan lebat atau banjir bandang, alam mengabari manusia dengan pementasan semut-semut yang ramai-ramai keluar dari sarangnya sambil nggotong telur-telurnya, mereka pergi entah ke mana. sebelum gunung merapi meletus, biasanya cacing-cacing tanah menggeliat keluar dari liangnya, menantang matahari, dan klugat-kluget ngiprit entah ke mana.

dan paska buka sore ini, aku kaget menatap bulan. kenapa bentuk bulan begitu buyar dan buram, sangat tidak mantap dan tegas. bentuknya berubah-ubah, bergerak-gerak. sinarnya samar sekali. lalu aku tahu, rupanya sinar bulan tertirai awan aneh yang menggumpal-gumpal melayang-layang. di hati aku bersangka-sangka penuh gelisah: maghrib ini bulan kok aneh sekali? kira-kira bakal ada kejadian apa? ya, seorang sepuh pernah cerita padaku. jika anak melihat awan aneh di angkasa, itu berarti sebentar lagi bumi gemetar. namun, aku ragu, sangat ragu dengan kata si sesepuh tadi. tetapi gelisahku bertambah-tambah.

biar gelisah, aku tak ambil pusing. nyante saja pikirku. eh, beberapa menit kemudia, jogja bergoyang. aku kelimpungan buru-buru keluar kamar dan ke jalan raya. badanku merinding bergetar. setelah batin tenang, aku menggumam sendiri: benar kata sesepuh itu, awan aneh tadi bertanda gempa.

nah kawan, awan selalu baik bagi manusia yang ikhlas berkawan dengannya. (ma lana maulan siwallah) 


Blog EntryAug 20, '10 6:21 AM
for everyone
standar keindahan yang di atas rata-rata, akan membuatmu tidak bisa melukis. kalaupun bisa, paling hanya corat-coret kanvas dengan warna yang tikam-tikaman. atau kamu akan merobek-robek kanvasmu karena tidak ada satu arsiran objek pun yang benar-benar sesuai dengan apa yang kamu yakini indah. lebih baik membuat suatu lukisan dengan standar keindahan yang rata-rata saja, mereproduksi realitas dengan apa adanya, menjepret fenomena selugasnya, daripada kecewa seperti aidit dan hok gie. tidak ada salahnya, dalam momen-momen sulit tertentu, kamu menjadi Tolstoy atau Machiavelli. benar, tidak ada salahnya, tidak ada salahnya bagi orang-orang yang frustasi seperti marcuse atau Adorno, yang mempercayai tidak ada lagi setitik api yang mampu nyalakan damar. tapi bila kamu masih menyandarkan diri pada nilai-nilai religi atau lain-lain mitologi, dan masih meyakini kelurusan jalanmu, tentu meng-Gandhi atau me-Muhammad adalah satu-satunya pilihan yang harus. kamu masih harus terus berlaga dengan kala, meskipun ia mempunyai persenjataan komplit supercanggih, sementara dirimu hanya mempunyai tulang-tulang yang rapuh dan hati yang garing (robbi la tadzarni fardan, wa anta khoirul waritsin). alif lam mim mesti sampai pada kelahirannya (ya hafidz, ya hafidz, ihfadzna :: ya rohman, ya rohim, irhamna).



Blog EntryAug 18, '10 5:25 PM
for everyone
Diam-diam banyak sistem filsafat, entah barat, entah timur yang sama-sama menyepakati prinsip sedang-sedang saja dalam berprilaku. di barat ada hannah arrendt dan derrida yang menganjurkan skema etik "sedang-sedang saja" dalam berprilaku, kendati tidak blak-blakan. di timur ada filsafat Zen dan Islam yang dengan terang-terangan menyebut skema etik ini sebagai virtue.

Islam menamai skema etik "sedang-sedang saja" dengan tawassuth (posisi antara, posisi ambang, posisi pertengahan). antonim tawassuth yakni tathorruf (suka menerabas, kelewat ekstrem). secara pragmatis, yang tawassuth akan selalu berdampak positif. sebaliknya, segala sesuatu yang dikerjakan secara tathorruf selalu akan merugikan dan merusak. sebagai contoh, minum obat tidak bisa seenak udelnya sendiri, harus berdasar kadar penyakit. mentang-mentang obatnya manis dan enak diemut, obat itu diemplok sekali telan. dan akibatnya, tentu over dosis. juga tidak sehat bila obat tadi dihemat-hemat, dikrikiti setitik-setitik. si sakit pasti tidak kunjung sembuh. demokrasi, agama, syair, nyanyi, hemat, dan segala ideal-ideal lainnya tidak bisa lepas dari hukum tawassuth-tathorruf ini.

demokrasi baru akan berfungsi jika dilaksanakan secara wajar, bersahaja, secukupnya, dan sedang-sedang saja. apa jadinya bila demokrasi dilaksanakan secara tathorruf? inilah yang sedang di alami negeri ini. orang-orang rame ngomong private right dan kebebasan. tiap kelompok mendirikan partai hingga jumlah partai berjibun (tapi sayang tak ada yang sungguh-sungguh eksis sebagai partai politik). tiap orang mengklaim kebebasannya masing-masing hingga kita bersikonflik antarsesama kita sendiri, hingga kita saling tonjok-tendang. tiap komunitas mendirikan lembaga civil society (tapi sedikit sekali yang benar-benar mengfungsikan diri sebagai institusi demokratisasi). orang-orang berbondong-bondong menggunakan hak memilih dan dipilihnya, mencontreng dan mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif (hingga banyak dari kita lupa apa sebenarnya tujuan general election). dan hasilnya? coreng-morenglah rupa politik kita, babak-bunyaklah wajah kebudayaan kita. sistem politik macet dan demokrasi mandul. demokrasi pun tidak lagi kelihatan batanghidungnya.

agama juga demikian. berlebih-lebihan atau ekstrem dalam bergama akan memunculkan watak fundamentalis dan sovinis. bila ada orang lain agama yang sedikit saja menyinggung-nyinggung sakralitas agama kita, kita kontan panik, naik darah, marah-marah, ngamuk, atau membantai atau membakar orang tersebut. beragama secara pas-pasan, ngirit, dan tipis-tipis saja pun tidak kalah negatif dampaknya. kita akan cenderung menyepelekan atau mengabaikan prinsip-prinsip etik agama kita yang sesungguhnya amat dalam dan amat dibutuhkan dalam hidup keseharian.

syair yang dilebih-lebihkan, diindah-indahkan, dirancak-rancakkan malah menjadi norak dan terkesan artifisial. maknanya kandas dan tersapuu oleh kata-kata yang mengombak-bunga. tetapi syair yang dibikin serampangan, tanpa memperhatikan kualitas sastrawi dan elemen fonetik-grafik-sintaksisnya, akan terasa sangat hambar, hampa, dan hilang daya tariknya. ya, kreasilah syair yang sedang-sedang saja, sederhana, dan wajar. justru kerap kali syair seperti ini lebih menyentuh, lebih mampu mengkatarsis para pembacanya, seperti syair mustofa w hasyim, gus mus, atau remy silado.

nyanyi yang diliuk-liukkan nadanya, difabrasi-fibrasikan suaranya (sampai ngeden-ngeden dan mulutnya mencang-mencong) malah rendah kualitasnya dibanding nyanyi yang nadanya ringan, lembut, enteng, dan menari-nari datar, tanpa dipenuhi cengkok yang nyengkok-nyengkok. sebaliknya, nyanyi yang terlalu datar dan lurus tidak bisa membikin hati tenggelam dan pinggul bergoyang.

jadi, mari lakukan kerjaan dengan secukupnya. sederhana saja, tidak kekurangan dan tidak berlebihan. mari berdemokrasi dengan dosis yang wajar, mari beragama dengan kadar secukupnya, mari bersyair dengan kesederhanaan dan kerendahan hati, mari bernyanyi dengan bersahaja. tinggikan yang tinggi, rendahkan yang rendah. benarkan yang benar, salahkan yang salah. mari bersikap cablaka, apa adanya, jujur sebab bangsa ini sudah over dosis dan kikir dalam berdemokrasi, over dosis dan kikir dalam beragama, over dosis dan kikir dalam berkebudayaan. mari jujur.

(antara revolusi akonomi-politik dan revolusi batin tidak bisa dipisahkan atau dibuat berpisah atau dipisah-pisahkan. meminjam bahasa gramsci, rulling system (ekonomi-politik) mau tak mau harus berpaut-padu dengan rulling class (kebudayaan, mental, batin). revolusi ekonomi-politik tanpa revolusi batin hanya akan mengulang-ulang tragedi bernegara. revolusi batin tanpa revolusi ekonomi politik sama seperti orang main cium-ciuman, nikmatnya sedikit dan sempit. revolusi bukan cuma suatu ingar-bingar yang gebyar, tapi ada tuntutan untuk revolusi dalam kesepian yang sunyi.



Blog EntryAug 18, '10 12:44 AM
for everyone
betapa bersalah dan lara rasanya pabila cintaku tak kugita.
mawar, hidangkan gitar kita sekarang.
maka kukarang nada laga dan lagu rindu untukmu, cuma untukmu.
cintaku akan bergita bergema-gema dengan gitar kita.
(ya fattah, ya fattah, ya fattah)

Blog EntryAug 17, '10 6:46 AM
for everyone
orang jawa, yang materis dan simbolis, akan sukar memahami umar. umar, yang orang-orang makkah gentar-gemetar kala menghadapinya, yang berotot wesi-bertulang kawat, yang dijuluki singanya padang pasir, kok bisa-bisanya dia menangis hanya karena membaca atau mendengar bacaan ayat qur'an? (nah loe, logikanya darimana coba?) sekali lagi, orang jawa, yang tiap saat dicekoki dengan ritual, bendera, dan upacara, sukar memahami umar.

di sini rahasianya. selain terkenal sebagai jawaranya makkah, selevel dengan hamzah bin abdul mutholib, umar juga kesohor sebagai penyair, bahkan ia pernah didapuk menjadi juri sayembara syair pasar ukaz.

yair arab, pada masa itu, sedang naik daun dan sedang matang-matangnya, dan umar merupakan salah satu biang sastranya makkah. biarpun jasmani dan perwatakkannya alot dan keras, tapi hatinya lembut, selembut kapas, tapi hatinya bening, sebening air, tapi hatinya putih, seputih salju.

orang yang tidak memiliki kualitas hati sehalus itu, tidak akan sungguh-sungguh memproduksi puisi-puisi tingkat tinggi (ya, kacangan la puisinya). orang seperti itu juga memiliki perasaan yang dalam, romantik, dan kadangkala (jika tidak bisa mengendalikan diri) hipersensitif.

o-leh ka-re-na i-t-u, waktu umar pertama kali membaca atau mendengar ayat alqur'an yang bermuatan sastrawi tinggi, mengatasi syair-syair bikinan manusia, hati umar yang selembut kapas itu kontan trenyuh, luluh, leleh, luruh. dan airmatanya jatuh. ia memasuki momen eksistensial yang terdalam yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. maka, umar masuk islam karena kepenyairannya, karena kehalusan hatinya, karena kadar puitik al-quran yang sangat-sangat tinggi.

ma-ka da-ri i-tu, ilmu katuranggannya orang jawa (di eropa populer dinamakan behavioral dan semiotik) yang mengeksploitasi materi, appearance, dan simbol sebagai pintu kebenaran, tidak bisa dijadikan perkakas pengetahuan untuk memahami umar. yo ra nyambung bung..., ra ketemu connectore...

Blog EntryAug 16, '10 11:20 AM
for everyone
tiba-tiba saya bertanya apa itu puasa. lantas ia menjawab: yaitu daud yang dengan memungut dan memagut kutuk mampu menekuk lutut si jalut, yaitu abu qosim yang demi ar-rohim mau urip sakjroning mati, mati sakjroning urip. puasa yaitu bunuh diri di kota kutuk agar dapat berkata-kata.puasa yaitu puisi diri. puasa yaitu titi revolusi. (sorry, saya tak bisa basa-basi puasa puisi, tapi puasa adalah perigi puisi, tapi puisi asalnya puasa)

Blog EntryAug 11, '10 9:09 AM
for everyone
aku tadi buka di angkringan. karena ramai, aku harus nunggu lama untuk mendapat pesanan esteh. ya its oke la. seraya tungak-tunguk nunggu esteh, aku amat-amati para pembeli yang berjubel memadati angkringan.

mukanya aneh-aneh lo. ada yang pasang wajah mrengut, ada yang matanya ngalor-ngidul seperti orang bingung atau nahan marah, ada yang senyumnya kecut banget, ada yang alisnya ditekuk tegang dan nggak turun-turun.

lelaki yang duduk di sebelah kananku tangan dan mulutnya lincah sekali nyrobot makanan. orang ini sepertinya tak sadar dengan kerakusannya. barangkali ia baru menyadari kalau terlalu rakus ketika mau bayar penganan, setelah dijumlah, e nyampe tujuh ribu. dia kaget. uang yang dia siapkan tidak cukup. dirogohnya kantong celananya, untung masih ada uang. entahlah, mungkin sambil berjalan menjauh dari angkringan ia menggumam: aduh, kenapa tadi makan banyak banget....

orang yang duduk di pojok kanan angkringan lain lagi. ia bahkan menghabiskan uang hampir sepuluh ribu untuk berbuka di angkringan. wah-wah.

ada mahasiswa yang tiba-tiba datang dan minta dibuatin esteh sama penjual angkringan. tapi karena si penjual sibuk melayani yang lain, ternyata pesanan esteh yang ditunggu-tunggu tak segera tiba. dan kayaknya mahasiswa ini berbuka tanpa minum dan langsung nyomot tiga gorengan. seret nggak tuh,,,

yang merana justru si penjual angkringan. sebelum bedug ia tidak menyiapkan esteh pribadi untuk berbuka. setelah bedug berbunyi, ia diserbu pembeli. sibuk bukan main ia jadinya. ia melayani pembelinya sambil nahan muka mrengut, kayane kesuhe ngepol. mungkin di hati ia ngedumel: wah la iki aku kapan guli bukane? aku yo puaso jugo he je..." baru setengah jam setelah bedug magrib. ia membuat esteh untuk dirinya sendiri dan menyruputnya. wah wajahnya lega sekali euy....

mengamati tingkah laku mereka, saya tertawa di batin. geli. kok rasanya tidak ikhlas betul mereka puasa. dan yang pasti mereka kaget, karena ini hari pertama puasa.

memang, orang indonesia tidak pernah tahan lapar bila laparnya disengaja dan diniatkan seperti lapar karena puasa. namun bila laparnya tidak disengaja, karena kemiskinan struktural dan pengangguran misalnya, kok orang indonesia bisa nahan lapar. malah mereka tampak sangat ikhlas. saking ikhlasnya dengan lapar dan deritanya, mereka tidak resisten secara otonom terhadap negara. aneh ya.... (coba di mana konsletnya?)



Blog EntryAug 11, '10 8:38 AM
for everyone
Apa sebenarnya akar krisis multidimensi yang terus-menerus mendera Indonesia ini? Apakah benar akarnya adalah kesenjangan dan kontradiksi kelas secara ekonomi-politik seperti banyak sosiolog, ekonom, dan aktivis marxisme mengutarakannya? Apakah krisis indonesia terjadi karena modernisme, globalisme, dan neoliberalisme semata, seperti jamak dialami negara-negara afrika dan amerika latin? Kiranya anlisis ekonomi-politik seperti itu tidak banyak memberikan jawaban, jika bukan malah menyempitkan pemahaman.

Sudah sejak lama saya mengira bahwa akar krisis republik ini bukan faktor-faktor ekonomi-politik, namun faktor kebudayaan. Perangkat lunak kebudayaan orang indonesia yang telah kandas dan bobrok, tampaknya menyediakan peluang bagi modernisme, globalisme, maupun neoliberalisme mengembangkan sayap-sayap hegemonialnya di Indonesia.

Bila secara etika orang Indonesia memiliki karakter yang lurus dan mantap seperti Cina, Iran, atau Kuba, betapapun dahsyatnya gelombang ekspansi modernisme, globalisme, dan neoliberalisme, bahtera ekonomi-politik Indonesia tentu tidak akan sedetikpun oleng, apalagi karam. Neoliberalisme tidak akan pernah mendapatkan momentumnya jika rata-rata orang Indonesia tidak terinfeksi oleh feodalisme kebudayaan, laku koruptif, dan watak opurtunis-hipokrit.

Sebenarnya hal seperti ini telah banyak disinggung oleh para cerdik-cendekia Indonesia.  Mochtar Loebis, Koentjoroningrat, Pramoedya, dan Tan Malaka di antaranya.

Mochtar Loebis mencermati bahwa perangkat lunak kebudayaan orang Indonesia umumnya tidak mampu menunjang program pembangunan. Pembangunan mensyaratkan terinstalnya mentalitas modern (seperti dispilin, komunikasi terbuka, otonomi, hemat, self-determination, dan demokrasi) pada cara berpikir dan perilaku keseharian orang Indonesia. Tapi pada realitasnya,  jarang orang indonesia yang “memakai” mentalitas modern tersebut, bahkan golongan terpelajarnya sekalipun.

Senada dengan Mochtar Loebis, Kuntjoroningrat juga mendapati hal serupa. Dalam Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, sebuah bunga rampai esainya yang diterbitkan Kompas secara berkala, Koentjoroningrat mengakui adanya jarak kebudayaan yang jauh antara orang Indonesia dengan orang Jepang, Cina, atau Barat. Malah Jepang, papar Koentjoroningrat, sering menganggap orang Indonesia lemah moral. Kelemahan ini “konon” adalah asal-muasal kelambanan laju pembangunan Indonesia. Ringkasnya, mental atau kebudayaan orang Indonesia yang berorientasi vertikal (patronial/asal bapak senang), yang tidak percaya kepada diri sendiri, yang tak berdisiplin murni, dan yang tidak bertanggung-jawab, tidak cocok dan tidak mendukung program pembangunan.

Pembangunan sebagai produk modernitas Eropa mengharuskan orang Indonesia berpikir secara rasional dengan orientasi ke depan. Sementara, orang Indonesia sendiri sehari-hari orientasi berpikirnya cenderung mengarah ke masa lalu. Ini misalnya dibuktikan dengan suburnya ideologi milleniarisme, revivalisme, dan ratu adilisme di Indonesia. Ideologi-ideologi yang genealogisnya dapat dirunut hingga kepercayaan animisme-dinamisme ini, membuat orang Indonesia bermentalitas pasif, menunggu kehadiran kembali kejayaan masalalu, dan meromantisir atau membangga-banggakan kebesaran kerajaan dulukala.

Sejarah pergerakan nasional kita dibumbui dengan maraknya wacana ideologi-ideologi semacam ini. Bahkan revolusi nasional pada agustus 1945 sendiri tidak bisa dilepaskan dari ideologi-ideologi tersebut. Kaum kromo menghayati revolusi agustus sebagai awal kebangkitan kembali zaman emas kerajaan majapahit dan akhir dari krisis zaman edan. Bagi mereka, Soekarno merupakan sosok ratu adil yang bakal membebaskan dan membawa Indonesia meraih kejayaan masa lampaunya.

Dan tidak hanya kaum kromo yang berpandangan semacam itu, bahkan terpelajar sekaliber Yamin dan Pramoedya berpandangan demikian, meski tidak seesktrem kaum kromo. Yamin sempat mendidakasikan diri melakukan penelitian cermat tentang kondisi ekonomi-politik-kebudayaan ketika majapahit di puncak kejayaannya.

Dan pramoedya mengarang Arok Dedes dan Arus Balik yang dalam keduanya banyak tersaji kisah-kisah romantik kejayaan dan keutamaan singosari dan majapahit. Namun posisi Pramoedya lebih dekonstruksionis dan postkolonialis ketimbang Yamin. Pramodya malah dengan lantang mendaku diri sebagai “Anak Semua Bangsa” dan menyarankan para pembaca karya literarisnya menjadi “Anak Semua Bangsa” juga. Maksudnya, romantisasi masalampau yang dilakukan Pramoedya lebih berfungsi sebagai sarana membangun karakter dan bangsa (nation and character building) atau membangun mentalitas modern daripada romantisasi an sich terhadap masa lampau. Kelak, romantisasi ini akan memojokkan Yamin dan Pramoedya dalam polemik kebudayaan.

Keputusan Pramoedya untuk meromantisasi kejayaan masalampau justru berawal dari gundah-gelisahnya melihat kehancuran budaya republik. Jadi, pramoedya juga memperoleh kesimpulan kebudayaan yang persis sama dengan Mochtar Loebis dan Koentjoroningrat. Hanya, mereka menawarkan obat kebudayaan yang berbeda dan kontradiktif. Di satu pihak, Pramoedya lebih mengambil kearifan masalampau sebagai jalan keluar tanpa menafikan kearifan modern, Mochtar Loebis dan Koentjoroningrat lebih terpikat oleh kearifan modern yang berorientasi ke masa depan.

Nah, Tan Malaka yang dididik dengan pendidikan barat dan terhisap oleh semangat zaman modern, menganut pandangan kebudayaan yang segaris dengan Mochtar Loebis, Koentjoroningrat, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Namun Tan Malaka terlihat lebih maju selangkah daripada ketiga intelektual tersebut. Sementara mochtar Loebis, koentjoroningrat, dan Sutan Takdir Alisjahbana berada di fase cultural discourse dan kutuk-mengutuk kebudayaan, Tan Malaka telah memproduksi softwere kebudayaan yang siap diinstal ke hidup-harian orang indonesia. Madilog adalah sofwere kebudayaan tersebut. Dalam Madilog, Tan Malaka menawarkan jalan keluar mengatasi kelemahan kebudayaan Indonesia, yaitu dengan menginjeksikan perangkat lunak kebudayaan barat (saintisme aufklarung) pada orang-orang Indonesia.

Malah Tan Malaka telah mematerialkan pandangan kebudayaanya dalam sebentuk sekolah rakyat yang ia dirikan dan kembangkan mulai 1919 di Semarang. Jadi, puluhan tahun mendahului SD Mangunan Romomangunwijaya di Kali Code, Yogyakarta—yang juga bertujuan sebagai obat kebudayaan bangsa.

Meski Mochtar Loebis, Tan Malaka, Koentjoroningrat, Pramoedya, Sutan Takdir Alisjahbana, Romo Mangunwijaya, dan banyak budayawan lainnya jauh-jauh hari telah mampu menerawang dan mengantisipasi kehancuran kebudayaan republik, dan telah mendirikan beragam institusi kebudayaan sebagai penangkal dan obat, tapi krisis kebudayaan republik ini bukan semakin sembuh, justru semakin parah. Ketiadaan otonomi dan aktivisme diri, ketiadaan kepercayaan diri yang mantap, serta perliku korup dan opurtunis terus berevolusi menjadi gejala yang dilegalkan bahkan diwajibkan.

Ahmad Tohari dengan nada getir menggambarkan parahnya sakit kebudayaan republik dalam berbagai karya literarisnya. Di negara dan di era yang serba korup dan opurtunis ini, orang yang memilih tidak korupsi dan tidak opurtunis, memilih berpegang teguh pada keyakinan moral, malah disingkirkan dan dikucilkan dari pergaulan dan masyarakat. Ia dianggap sok suci atau sok idealis atau sok alim atau apapun stereotipnya. Di zaman edan ini, keluh Ahmad Tohari, orang yang tidak ikut edan tidak akan selamat. Zaman mengharuskan tiap orang bermental dan berpolah korup, opurtunis, feodal, hipokrit, dan edan-edanan. Yen ora edan, ora mangan (bila tidak ikut gila, tidak bakal makan).

Dan yang paling tragis, kerap kita tidak menyadari bahwa diri kita sendiri ternyata juga telah tercebur dan terperangkap dalam kehancuran kebudayaan. Kita diam-diam rupanya rela menjadi investor gigih yang menyumbang banyak saham dalam memperparah sakit kebudayaan republik. Dengan kata lain, kita, diri saya sendiri, termasuk orang yang berkebudayaan rusak, orang yang moralitasnya njeblok.

Sambil iseng, saya kadang mendaftar beberapa mentalitas umum orang indonesia. Mentalitas tersebut dalam pandangan saya membuat bangsa ini tidak kunjung mentas dari krisis multidemensi. (ini hanya iseng lo, tapi saya kira cukup bermanfaat bagi saya, dan cukup relevan untuk memperkaya catatan ini). Berikut mentalitas umum orang indonesia yang dapat saya tangkap:

a.    Material atau simbolistik
b.    Kurangnya kepercayaan antarindividu
c.    Ngguyub
d.    Ketiadaan otonomi, inividualitas, aktivisme, dan self-determination
e.    Patronial
f.    Tidak bisa memisahkan ruang publik dan ruang privat
g.    Klangenan, entertain society, hobby society
h.    Meri dan latah
i.    Konsumtif
j.    Korup

to be continued...


Blog EntryAug 10, '10 8:16 PM
for everyone
    : hanya corat-coret politis

Lembaga adat rentan ditunggangi berbagai kepentingan politik dan ekonomi. karena biasanya, selain menawarkan loyalitas politik berbentuk soliditas tribalis lembaga adat juga memiliki potensi mobilisasi massa fanatis yang besar. dan terutama setelah kejatuhan soeharto, seiring bergulirnya program desentralisasi dan demokratisasi secara nasional dan menyebarnya wacana postmodernis secara global, penunggangan adat oleh banyak pemain oligark lokal menjadi fenomena yang sangat umum dan merata di Indonesia.

saya sudah menemui dan mengalami banyak kasus seperti itu. misalnya, penunggangan FKKKI oleh para sultan senusantara, tekanan politik kelompok bonek dan komunitas madura, penyuapan ketua adat untuk mendorong terjadinya konflik horizontal antarsuku demi political pressure sekelompok politisi nasional, dan masih banyak lagi.

lebih kurang dua tahun lalu, ketika saya berstudi di PeKa, justru pimpinan asrama sempat memobilisir saya untuk datang dalam suatu acara adat yang penuh nuansa politis (tapi waktu itu saya belum menyadarinya karena keterbatasan pengetahuan sosial-politik). acara tersebut diadakan komunitas adat bugis (yang saya lupa nama resminya). inti "acara adat" tersebut adalah penganugerahan gelar pimpinan adat bugis pada zulkifli nurdin, gubernur jambi kala itu yang kini telah demisioner.

belakangan, setelah saya banyak bertukar pikiran dengan kawan-kawan bugis, saya baru mengetahui bahwa komunitas adat bugis yang memiliki jaringan interanasional tersebut dicetuskan dan dikoordinasi oleh keluarga haji kalla. Jusuf Kalla sendiri adalah tokoh sentral yang mengendalikan segala keputusan politik dan kebudayaannya. praktis komunitas ttu menjadi "mesin politik" bagi Jusuf Kalla secara pribadi.

"acara adat" komunitas adat bugis yang saya hadiri tersebut tampaknya menjadi "momen fusi dan kontraktual" antara komunitas adat bugis itu dengan gubernur jambi, antara jusuf kalla dengan zulkifli nurdin, antara partai golongan karya dan partai amanat nasional (karena basis partai zulkifli nurdin adalah PAN). di satu sisi, keputusan zulkifli nurdin memilih komunitas adat bugis tersebut sebagai rekanan politik sangat tepat; karena populasi bugis di jambi cukup besar. di lain sisi, i'tikad jusuf kalla menggandeng zulkifli nurdin juga tepat lantaran zulkifli nurdin pantas disebut sebagai local strongmen yang menggenggam seluruh kekuasaan politik pemda, terutama birokrasi dan militernya.

sekali lagi, aksi penunggangan lembaga adat yang diperbuat zulkifli nurdin dan jusuf kalla bukan kasuistik, tapi merata dan "lumrah" di Indonesia. ini merupakan sebuah kepelikan tersendiri bagi gerakan civil society di daerah,.kecil kemungkinannya untuk memberdayakan adat sebagai wahana demokratisasi politik-ekonomi di tingkat lokal. sebab, adat atau lembaga adat telah diokupasi habis-habisan oleh local strongmen, yakni politisi lokal semacam zulkifli nurdin. dan malangnya, biasanya hal ini dibiarkan saja atau justru dimanfaatkan secara amat politis oleh akademisi dan budayawan lokal. ("ya, mau bagemana lagi. tiap orang kan butuh makan," ucap iblis membisiki saya. dan saya timpali: "mereka tidak hanya butuh makan, tapi rakus-kus-kus".)

Blog EntryAug 9, '10 5:33 AM
for everyone
astaghfirullah robbal baroya
astaghfirullah minal khotoya

ya allah gusti nyuwun pangaksami
sampun dangu kulo ninggalke agami
infaq shodaqoh lan kitab suci
nyuwun tuntunan ilahi robbi

ya allah gusti kang ndamel jagat
kadhah bilahi kawulo sambat
pun opo cubo pun opo laknat
istighosah lan maos sholawat

ya allah gusti kang moho tartil
paringo imam jujur lan adil
negoro aman songko wong jahil
agomo adhoh akale kancil

(tembang yang meringkas rahasia kehidupan manusia ini sungguh penuh hikmah. siapapun yang menciptakannya, pastilah dia tak sembarang orang, pastilah dia berilmu tinggi, pastilah dia berkebijaksanaan dan berkeyakinan tinggi. dan aku yakin, siapapun yang menembangkannya dengan segenap kesadaran dan cinta, dengan sungguh-sungguh sukur, ikhlas, dan yakin, pastilah dia tak sembarang orang, pastilah dia berilmu tinggi, pastilah dia berkebijaksanaan dan berkeyakinan tinggi. apakah aku yang sebentar-sebentar mengaduh dan mengeluh, yang kerap lupa dan sering lalai, yang diam-diam menyalahkan dan merampok orang lain, yang anti mengoreksi diri-sendiri, yang dasamuka ini, termasuk bagian dari mereka? aku malu, aku merasa tak pantas.)

ya hafidz ya hafidz ihfadzna, ya rohman ya rohim irhamna...

Blog EntryAug 8, '10 5:49 AM
for everyone
waktu kusakau kaucekau kalbuku dengan rumus-rumus huruf nun:
kun fayakun
Aku tersungkur sujud di sudut yang terlalu jauh dari ujung rumahmu
Kaumau bunuh tubuhku
kumau madu empedu:
marhaban ya ramadhan

Blog EntryAug 8, '10 5:38 AM
for everyone
ning-nang-ni-gung
ning-nang-ni-gung

bening
tenang
brani
agung

ning-nang-ning-nung
ning-nang-ning-nung

bening
tenang
hening
mrenung

ning-nang-ni-gung
ning-nang-ning-nung
ning seperti air
nang laksana bata
ni bagai agni
gung umpama gunung

ning-nang-ning-gung
ning-nang-ning-gung

yang bening akan menang
yang hening lalu agung

ning-nang-ni-gung
ning-nang-ni-gung

ning-nang-ning-nung
ning-nang-ning-nung

ning-nang-ning-gung
ning-nang-ning-gung

Blog EntryAug 7, '10 12:19 PM
for everyone
lain dulu, lain kini. bila dulu soeharto membreidel pers dengan cara mencabut SIUPP sebuah institusi media, kini anak didik soeharto, abu rizal bakrie (ical) tampaknya telah semakin jenius. tanpa sedikitpun menyenggol pagar demokrasi, Ical membreidel Surabaya Post (SB) dengan membeli hak kepemilikan koral lokal Jawa Timur ini. ia lalu memasang dua orang kepercayaannya di jajaran direksi SB. dan para jurnalis SB yang sebelumnya vokal menyuarakan kasus lumpur lapindo kehilangan kebebasan menginvestigasi, mereportase, dan memberitakan kasus yang telah mengorbankan kurang lebih 40 ribu penduduk sidoarjo tersebut. justru kini Ical memanfaatkan SB untuk kepentingan bisnis dan politik pribadinya.

nasib SB tidak lebih baik daripada pers mahasiswa (persma) kebanyakan. persma juga tidak selamat dari gerayangan pasar. departemen pendidikan dan kebudayaan serta universitas yang telah kemasukan roh market, membreidel persma dengan memperketat anggaran, memperciut ruang politik, mempersibuk aktivitas studi formal, dan membudidayakan budaya pasar di kampus-kampus.

lain dulu, lain kini. jika dulu di era otoriterianisme orba pembreidelan pers dapat dijadikan sebagai pemantik konsolidasi demokrasi secara nasional guna menggalakkan politik oposisioner, pers breidel gaya pasar yang berwatak "demokratis" dan terselubung, tidak memiliki potensi tersebut. pers breidel gaya pasar memang lebih demokratis, lebih halus, lebih lembut, tetapi juga lebih ganas dan mematikan. artikel "Stopping the flow" yang diterbitkan Inside Indonesia belum lama ini menggambarkan keganasan pers breidel gaya pasar tersebut. berikut artikelnya.

Stopping the Flow

by Ross Tapsell*

Lapindo Brantas’ involvement in the Surabaya Post has restricted the way journalists report on the mudflow

This is a story of politics, business, and newspapers in Indonesia. It is a story of how Indonesia’s richest man, Aburizal Bakrie, came to buy a struggling newspaper, the Surabaya Post, and the consequences of this purchase. The story begins in 2006 with the much-publicised eruption of mud in Sidoarjo, where the Lapindo Brantas mining company was drilling for natural gas. The company has continued to deny any responsibility for this devastating disaster, claiming that the mudflow was triggered by an earthquake near Yogyakarta three days before – an explanation that has been dismissed by numerous international experts. The mudflow has since displaced more than 40,000 people, and some estimates suggest it could flow for decades.

Lapindo Brantas is controlled by Aburizal Bakrie, who was Co-ordinating Minister for Public Welfare at the time of the disaster. According to Forbes magazine, Bakrie was also Indonesia’s wealthiest man, with an empire worth $US5.4 billion. Bakrie-controlled companies have interests spanning Indonesia's economy in mining, oil and gas, palm oil, property, telecommunications and finance. The mudflow has been a personal disaster for Bakrie, both financially and for his reputation. The Bakrie family business nearly collapsed in 2008, when a plunge in the shares of six Bakrie-linked firms prompted the Indonesian Stock Exchange to close for three days. In the same year, Indonesia’s leading weekly news magazine, Tempo, published a picture of Aburizal Bakrie on the front cover with a mosaic of numbers, including the figures 666, superimposed on his face. Bakrie threatened a defamation suit against Tempo, but few people had sympathy for the man whose company was increasingly seen as having been responsible for swamping entire villages, factories and towns in a toxic sludge.

Newspapers – particularly those in Surabaya, the closest major city to the disaster – have also been very critical of Bakrie and Lapindo Brantas. Stories have focussed on the plight of the victims, the company’s inability to stem the continual flow of mud and its reluctance to compensate those who were displaced. As Syrikit Syah, former Chief Editor of the Surabaya Post recalled, ‘We were all pro [mudflow] victims in the news section. No one could stop us from publishing what we thought worth publishing.’ But for journalists at the Surabaya Post, at least, that quickly came to an end.

A struggling newspaper

Established as an afternoon newspaper in 1953, by early 2008 the Surabaya Post was facing closure due to insufficient advertising revenue and an owner’s unwillingness to operate at a loss. Bakrie stepped in to purchase the ailing newspaper, adding it to his portfolio of media businesses which include stakes in television stations ANTV, TVONE and ArekTV (Surabaya) and the online wire service VivaNews. Upon purchase of the Surabaya Post, two Lapindo executives, Bambang Prasetyo Widodo and Gesang Budiarso, were appointed as directors of the newspaper. Both held managerial positions in PT Minarak Lapindo Jaya, the subsidiary of Lapindo tasked to handle the mudflow.

Surabaya Post journalists complain that the change of ownership has led to a different culture, and they are reluctant to report anything that might involve the owner’s business interests. Dhimam Abror has been chief editor of the Surabaya Post since 2008. A former chief editor of Jawa Pos and the now defunct Suara Indonesia, he admitted that he had to adjust his position on the mudflow upon joining the Post, because there was a ‘fine line’ when reporting about Lapindo: 'It is well known that Bakrie has interests in business and politics. There is no direct intervention from him, of course, but we knew that it is better to write some stories with a different point of view, or a different angle.' He claims that there are more pro-Lapindo articles because journalists have more access to Bakrie’s sources. But Sirikit Syah, now a lecturer in Communications at Petra University in Surabaya, argues that this was the point of the purchase all along: ‘It is crystal clear that taking over Surabaya Post was destined to reduce or eliminate negative reporting and to increase positive reporting of the Lapindo company.’

After the purchase, changes were immediately evident in how the mudflow and Lapindo were reported. One journalist observed that while staff still wanted to write human interest stories about the ongoing plight of people in Sidoarjo, it was difficult to do so because ‘Middle-level management created an atmosphere of self-censorship and the human interest stories dropped.’ Another said, ‘It is true that we have been told to not write bad things about Lapindo in relation to the mud volcano. The bosses have said, 'Don’t write the details', like if there is a rally against Lapindo. Mostly we are pressured to use sources from our own company, those that are also involved with Lapindo.’

After the purchase by Bakrie changes were immediately evident in how the mudflow and Lapindo were reported

Several other journalists also admitted that they were under considerable pressure to quote official Lapindo sources at every opportunity when reporting the mudflow, and had begun to self-censor. Some reported that instruction came from the two Lapindo executives about how stories on the mudflow should be worded. Editors were to refer to the mudflow as the ‘Sidoarjo mudflow’, rather than ‘the Lapindo mud volcano’, the term most commonly used in the media. According to Fiqih, a cadet journalist for the Post, journalists were worried about their future employment if they made negative comments about the company in their articles. However, he doubted whether an editor would approve a negative article for publication. Another Post journalist lamented; ‘We used to report exactly on the condition in the field, the impact of the mudflow. We seldom write about it now. The mud is still spewing out, but for us, it is like the earth swallowed it.'

Official investigations complicate reporting

There are additional difficulties for journalists reporting on the mudflow stemming from the outcome of official investigations into Lapindo liability for the disaster. A police investigation on Lapindo’s involvement in the mudflow limped along for more than three years before officials announced in August 2008 that they were dropping the case. Soon after a government investigation declared that the mudflow was a natural disaster. One journalist explained that it is difficult to criticise the company because it has never been proven that Lapindo was responsible for the mud volcano, and the court found that there was no relationship between the company and the disaster.

While official investigations may have supported Lapindo’s argument that the mudflow was a natural disaster, many people in Surabaya remained sceptical of this finding. This is where owning a newspaper comes in. Bakrie’s purchase of the Surabaya Post allowed Lapindo to get their message out directly. It led to more stories about Lapindo solving problems in Sidoarjo, rather than causing them. This is a concern for many supporters of press freedom in Indonesia, who argue that pressures from owners interfere with independent and critical journalism. In a democracy, newspapers should attempt to represent the interests of the powerless and those without a voice, rather than be a mouthpiece for interests who own and dominate the country.

Ross Tapsell(rosst@uow.edu.au) is a visiting scholar at the University of Indonesia and holds an Australian Government Endeavour Postdoctorate Award.

repro: http://www.insideindonesia.org/stories/stopping-the-flow-10071332

Blog EntryAug 7, '10 10:13 AM
for everyone
-    dora sembada
-    gabah digenggem buthuken, disebar lemah ngebaki sawah
-    njajah desa milang kori
-    rila lamun ketaman, kelangan nora gegetun
-    sabar subur
-    sluman slumun slamet
-    sumur lumaku tinimba
-    yen wani aja wedhi-wedhi, yen wedhi aja kumawani


Blog EntryAug 7, '10 10:12 AM
for everyone
-    aja njagakake endhoge blorok
-    aja turu awan, mundhak dadi kancane setan
-    aja ngothongake genthong kendhi
-    ana barang ana rega, wong urip kudhu wani rekasa
-    ana dhaulate, ora ana begjane
-    ana dhina ana upa, ora obah ora mamah
-    ana sethithik dipangan sethithik
-    gemi, nastiti, ngati-ati
-    kegedhen empyak, kurang caghak
-    opor bebek mentas seka awake dhewek
-    sapa ubet bakal ngliwet
-    thenguk-thenguk nemu kethuk
-    tuking boga saka nymabut karya
-    utha-uthu golek selaning garu


Blog EntryAug 7, '10 10:06 AM
for everyone
Pada wayang purwa kita bisa sinau moco mawi koco, sinau maos mawi raos dengan menjadikannya sebagai kaca benggala. Demikian sesungguhnya maksud Sunan Kalijaga memodifikasi wayang beber menjadi wayang purwa yang dalam lakon-lakonnya banyak termuat nasihat al-qur’an. Wayang, kata ki dalang pada tiap memulai pentasnya, adalah tuntunan dan bukan sekadar  tontonan, juga bukan hiburan atau klangenan. Selepas menonton wayang, para penontonnya diharapkan mengalami renaissance, jiwa-raganya bangun, lahir-batinnya bangkit.

Namun nasib wayang purwa tampaknya sekarang tak berbeda dengan agama, pancasila, atau ajaran-ajaran moral lainnya. Wayang hanya menjadi tontonan, simbol bisu, pajangan, hiburan atau klangenan. (persis seperti agama kristen danish lutherianisme denmark yang pada abad 19 dianggap oleh Kierkegaard telah sekuler dan kehilangan spirit relijiusnya. Agama bukan lagi agama. Sisi subyektivitas agama disapu oleh obyektivisasi dan abstraksi. Agama hanya dipelajari tapi tidak dihayati dan diamalkan. Injil hanya dikidungkan tapi tidak diikuti dan diimplementasikan dalam hidup harian).
Lebih dari sekadar simbolisasi atau klangenanisasi, wayang kini telah diperalat oleh pasar. Bukan hanya bahwa wayang telah menjadi massal dan hampa makna, namun wayang telah dipergunakan sebagai sarana bisnis dan promosi serta sarana politik. Mengikuti perspektif habermasian, wayang sebagai bagian dari dunia-kehidupan telah dijajah oleh sistem ekonomi dan politik. Terjadi komodifikasi dan politisasi atas wayang.

Contoh yang paling jelas dari hal tersebut adalah apa yang dilakukan UIN “Sunan Kalijaga” belakangan ini. Malam rabu lalu, UIN “Sunan Kalijaga” nanggap wayang dengan lakon Pusoko Jamus Kalimosodo, sebuah lakon yang dicipta Sunan Kalijaga. tujuan pementasan tersebut, yakni ‘menghargai jasa-jasa sunan kalijaga, sepintas tampak sangat mulia. Tapi apa UIN “Sunan Kalijaga” semulia itu? aku mengendus maksud busuk. Tidak, ia tidak semulia itu. terdapat pragmatisme ekonomi dan politik dalam pementasan Jamus Kalimosodo. Jamus kalimosodo dipentaskan sebagai sarana mempromosikan dan menjual UIN, setidaknya lewat TVRI. Ia juga dipentaskan untuk memberi “manisan” pada warga sekitar: kelurahan catur tunggal. UIN “Sunan Kalijaga” ingin mencitrakan dirinya akrab, dekat, dan sehati dengan warga. Dibeberkannya pada publik bahwa ia teguh melaksanakan tri dharma perguruan tinggi. Dengan pementasan pusoko jamus kalimosodo, UIN “Suanan Kalijaga” mau meminta maaf pada warga karena ia telah menggusur perumahan sepanjang kali gajah wong pada 2004 silam, membongkar jembatan, dan hampir membongkar dua jembatan lagi serta dua buah kompleks kuburan warga. (semudah itukah UIN “Sunan Kalijaga” meminta maaf? Hanya dengan memberi warga manisan berupa pementasan wayang?)

Ya, naas. Wayang mengalami nasib yang sangat naas. Tetapi yang lebih naas lagi justru Sunan Kalijaga sendiri. ia menciptakan wayang purwa untuk tujuan kemanusiaan, kebudayaan, dan peradaban. Tapi apa jadinya sekarang? Wayang purwanya digunakan sebagai sarana iklan dan instrumen membodohi warga oleh sebuah “Universitas” “Islam” “Negeri” yang menyandang nama “Sunan Kalijaga”. bukankah itu kemplu n sontoloyo utawi bangsat?


Blog EntryAug 7, '10 4:23 AM
for everyone
dua hari lalu saya bermimpi. mengerikan tapi bermakna. mimpi itu mengimajikan sebuah scane puncak revolusi yang terjadi di negeri antah-berantah.

alkisah, revolusi sedang mendidih dan sang pemimpin besar revolusi telah mengambil alih seluruh instalansi dan gedung pemerintahan. masyarakat mengkutub menjadi dua kelas atau front: front revolusioner yang berpakaian hijau dan front reaksioner yang berseragam merah. saya termasuk kader front revolusioner.

dari sebuah menara utama, lewat radio dan televisi, sang pemimpin besar revolusi mengultimatum: "kepada seluruh kader revolusi, kejarlah, bantailah, bunuhlah, dan habisilah orang-orang reaksioner". seperti seluruh kader revolusioner lainnya, saya terbius dan terhipnotis oleh ultimatum tersebut. dan kesrigalaan saya keluar. kami, massa revolusioner mengejar massa reaksioner yang lintang-pungkang dan kocar-kacir berlarian ke sebuah aula besar untuk menyelamatkan diri. kasihan, upaya mereka sia-sia. mereka dibantai. ada yang lehernya digorok, kakinya dikapak, perutnya ditusuk hingga usus terburai, dan lain sebagainya. saya sendiri berhasil membantai lima orang. anehnya, saya bahagia dan bangga saat menghabisi orang-orang tersebut.

lama saya mengikuti hingar-bingar people power itu. dan selang beberapa menit kemudian, saya terhenyak, sadar. batin saya menggumam: "gusti, apa yang saya lakukan? saya membunuh? saya membunuh lima orang? gusti, saya membunuh manusia yang belum tentu bersalah, manusia seperti saya, makhluk yang memiliki hak hidup. saya membunuh saudara saya sendiri. telah hilangkah kemanusiaan saya? telah menjadi srigalakah saya? oh, gusti..." di tengah kebingungan dan absurditas tersebut, saya tersentak bangun, menggeragap.

setengah sadar, saya menarik nafas panjang. untunglah, hanya mimpi. seraya melamun, saya bertanya-tanya: kalau suatu waktu nanti terjadi people power di Indonesia, akan semacam itukah keadaannya? hati saya tak sanggup menjawabnya. dan saya hanya dapat berharap, semoga revolusi indonesia kelak tidak begitu.

***

malam kemarin, saya berjalan menyisir jalan surowajan. niatnya beli tempe goreng dan es teh. di perjalanan, saya dongakkan kepala ke angkasa, menatap langit, awan kelabu, bintang bertabur, dan bulan sabit. tanpa sengaja, saya melihat bintang jatuh. dalam film-film remaja kerap dimitoskan bahwa beruntunglah orang yang melihat bintang jatuh. cepat-cepatlah membuat permohonan dan pengharapan, karena pasti dikabulkan. dan seketika itu juga, saya membuat pengharapan: "Gusti, selamatkan bangsa ini. selamatkan gusti...". saya tak mau ambil pusing apakah mitos bintang jatuh benar atau tidak. saya hanya ingin memohon dan mengharapkan keselamatan bangsa ini, tanah-air ini. bangsa yang telah hancur-mumur di segala sektor ini, janganlah kian hancur. gusti, angkatlah kami dari lembah gelap kebudayaan ini, beri kami damar wulan, suluh, obor, badrut tamam. (dan apa salahnya berharap? apa berdosa membuat permohonan?)

Blog EntryAug 3, '10 7:01 PM
for everyone
di PeKa dulu saban subuh dan magrib kami pasti melafalkan asmaul husna dan sajak abu nawas. waktu itu, belum kutahu benar apa makna dari kalimat-kalimat arab yang asing itu. maka aku melantunkan sajak abu nawas dan asmaul husna hanya untuk melunasi aturan asrama, hanya itu. dan karena niat yang begitu hampa dan kosong seperti itu, ucapan "nas'aluka" dan "ilahi lastu"-ku tak pernah berkesan, tak sedikit pun menggores lubuk hatiku.

kini, tiga tahun setelah lulus dari PeKa, senoktah demi senoktah, sebulir demi sebulir baru kupahami makna hakikat dari beberapa asmaul husna dan sajak abu nawas--makna hakikatnya, tak sekadar terjamah atau arti, tapi makna, unsur semiotiknya yang menghantarku ke momen-momen eksistensial.

asmaul husna meringkas sepadat-padatnya rahasia penciptaan, misteri kehidupan dan kematian. dan sajak abu nawas yang dipadu dengan "tombo ati" tidak salah lagi merupakan medium pencerahan atau device of enlightenment. nang-ning-nung-nya ilahilastu tombo ati adalah suluh adalah damar adalah badruttamam bagi siapa saja yang pintu hatinya terbuka, entah muslim atau non-muslim, entah arab, indonesia, israel, kuba, dlsb.

tapi bagi yang pintu hatinya masih tertutup bahkan terkunci rapat (seperti aku), energi pencerahan asmaul husna dan ilahilastu tombo ati tak akan pernah membangunkan jiwa-jiwa yang tertidur pulas di lembah bawah sadar yang gelap, tak akan pernah, tak akan pernah.

Blog EntryAug 2, '10 4:59 AM
for everyone
sudah menjulang purnama,
berpendaranlah cahanya,
cahayanya berpendaran ke mana-mana.
purnama mengundang berbilang purnama:
malam terang-benderang.
belum kusua seumpama indahmu purnamaku,
duhai wajah yang memancar sejuta bahagia,
duhai wajah yang menyingkap sejuta rahasia.
salamku dan pengharapanku selalu padamu.

Blog EntryJul 31, '10 11:37 PM
for everyone
sapardi djoko darmono: penyair

aku telah terbuka perlahan-lahan, seperti sebuah pintu, bagiku
satu per satu aku terbuka, bagai daun-daun pintu,
hingga akhirnya tak ada apa-apa lagi yang bernama rahasia;
begitu sederhana: sama sekali terbuka.

dan engkau akan selalu menjumpai dirimu sendiri di sana
bersih dan telanjang, tanpa asap dan tirai yang bernama
                rahasia
jangan terkejut: memang dirimu sendirilah yang kaujumpa
di pintu yang terbuka itu, begitu sederhana
jangan gelisah, itulah tak lain engkaumu sendiri,
kenyataan yang paling sederhana tapi barangkali yang
            menyakitkan hati
aku akan selalu terbuka, seperti sebuah pintu, lebar-lebar
                bagimu
dan engkau pun masuk, untuk mengenal dirimu sendiri di
                    sana

linus suryadi: penyair

dia serahkan irama hidup antar desa dan kotanya
selama menyebrangi arus deras sungai ke hilir
selama jiwa di dalamnya membuka isyarat rahasia
bahwa penyair berdiri dan bersaksi di pinggir

mansur samin: penyair

sebab jiwa menundukkan akhir
sambutlah kobar perjalanan sedih ini
berbuah kasih kesegaran dunia
hidup buruan larut meneriakkan dahaga

di halaman buku-buku dan huruf yang ramah
bersumber nasib hari matinya
dengarlah tempuh tuju dan kepalang tanggung
merebut tiap tempat padat oleh pengalaman

marilah berdiri meninjau penyair
hanya kerna ketegasan hidup
bertanya langsung atas kutub tanahair
kita pun maklum untuk apa mereka bersujud

saini KM: pidato

terimalah hati penyair, betapa pucat dan gemetar
pun ia
rabalah dengan telapak perasaan dan kenalilah
dalamnya
melawan kebencian, keangkuhan, khianat dan
dengki

airmata dan empedu dendam yang diam-diam
kujatuhkan ke dalam kalbu
akan meluap hingga tenggorokan dan
menenggelamkan jiwa
dengarlah suara hati-nuranimu yang mengepakkan
sayap
pada kata-kata penyair, menemukan kembali
saudara-saudaramu yang hilang

wahai, kaum yang diceraikan oleh kepicikan dan
wasangka
tak ada tempat bertemu bagi kalian di dalam sajak:
sebuah hati, betapa pucat dan tercincang pun ia
adalah milim. Reguklah harapan dan nganga
lukanya

rendra: surat cinta

...
Aku melamarmu
Kau tahu dari dulu:
Tiada lebih buruk
Dan tiada lebih baik
Dari yang lain...
Penyair dari kehidupan sehari-hari,
Orang yang bermula dari kata
Kata yang bermula dari
Kehidupan, pikir, rasa.

Sanusi pane: sajak

O, bukannya dalam kata yang rancak
Kata yang pelik kebagusan sajak.
O, pujangga buang segala kata,
Yang ‘kan Cuma mempermainkan mata,
Dan hanya dibaca selintas lalu,
Karena tak keluar dari sukmamu.

Seperti matahari mencintai bumi,
Memberi sinar selama-lamanya,
Tidak meminta sesuatu kembali,
Harus cintamu senantiasa.

Syu’bah asa: tentang menulis sajak

Ingin aku menulis sajak
Sebab Taufik sudah membuat banyak
Ia bacakan di depan orang beramai-ramai
Sedang aku di sudut terhenyak

Bila aku menulis sajak
Mungkinkah sajak lahir dari kehendak
Sedang “rangsang puitik itu”
Tak kunjung muncul dari ketiak

Kalau engkau menulis sajak
Mondar-mandirkah engkau di dalam kamar
Mereka-reka sekian lagak
Atau duduk diam tentang jendela
Sambil menghabiskan rokok satu pak?

Mungkinkah orang menulis sajak
Dari melawat ke banyak negeri
Sambil memilih sejumlah nama
Sedang yang sajak tinggal mendesak?

Aku tak ingin menulis sajak
Mendengar musik atau nonton planetarium
Membuat diriku lebih beruntung
Di situ lantas kupikir
Sudah kutulis sebuah sajak

Taufik ismail: dengan puisi, aku

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya

Wing kardjo: sajak

Jari-jari dalam diri
Bagai akar yang tak pernah berhenti
Menggali bumi, makin dalam
Makin dalam di dalam kelam

Jari-jari yang menulis kata
Makin keras makin keras
Bagai pisau tajam
Mengoyak-ngoyak badan

Mimpi dalam urat-urat diri
Mengalir ebrdebur-debur
Bagai ombak, bagai gelombang
Tak tahu pulang

Ayatrohaedi: sajak

Sajak seorang penyair
Lebih dari kecup bibir
Menetes seperti air

Sajaknya adalah api
Yang berkelip dalam hati
Sajaknya adalah bunga
Yang berbunga dalam dada

Sajak seorang penyair
Curahan cintanya terhadap tanah air

Emha: sajak luka menganga

...
Saudara-saudaraku puisi adalah bau anyir keringat berjuta rakyat, puisi adalah kehidupan mereka yang alot dan berat, adalah pikiran dan tenaga mereka yang sekarat, puisi adalah darah luka mereka yang muncrat

Saudara-saudaraku puisi bukan sejenis pakaian sore atau pakaian pesta yang terpampang di kaca etalase, hasil desainer-desainer kebudayaan

Saudara-saudaraku setidaknya puisi bisa mengajari kita untuk berkata: TIDAK!

Subagio sastrowardojo: sajak

Apakah arti sajak ini
Kalau anak semalam batuk-batuk
Bau vicks dan kayu putih
Melekat di kelambu,
Kalau istri terus mengeluh
Tentang kurang tidur, tentang
Gajiku yang tekor buat
Bayar dokter, bujang, dan makan sehari,
Kalau terbayang pantalon
Sudah sebulan sobek tak terjahit,
Apakah arti sajak ini
Kalau saban malam aku lama terbangun:
Hidup ini makin mengikat dan mengurung.
Apakah arti sajak ini:
Pikiran anggrek tricolor di rumah atau
Pelarian kecut ke hari akhir?

Ah, sajak ini
Mengingatkan aku kepada langit dan mega,
Sajak ini mengingatkan kepada kisah dan keabadian.
Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali
Sajak ini melupakan kepada bunuh diri.

Sapardi djoko damono: kepada sebuah sajak

Dengan rendah hati kuserahkan kau kepada dunia
Sebab bukan lagi milikku. Tegaklah
Bagai seorang lelaki yang lahir dalam zaman
Yang riuh rendah
Dan memberontak
Kulepas kau ke tengah pusaran topan
Dari masalah manusia, sebab telah dilahirkan
Tanpa ayah dan ibu
Dari jemariku yang papa
Kaupun menjelma secara gaib wahai nurani alam
Aku bukan asal-usulmu. Kotalakkan kepada dunia
Nama baik serta nasibmu
Aku tak lagi berurusan denganmu
Sekali kau lahir lewat tangan-tanganku, tegaklah
Seperti lelaki yang tanpa ibu-bapa
Mempertahankan nasibnya sendiri
Terhadap gergaji waktu

Amir hamzah: berdiri aku

Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datar ubur terkembang

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun alun  di atas alas

Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengorak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak

Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentausa
Mencecap hidup bertentu tuju

Taufiq ismail: sejarum peniti, sepunggung gunung

Puisi punya kepentingan besar terhadap bertriliyunan daunan yang terpasang tepat dan rimbun pada pepohonan pada bermiliyar pepohonan yang terpancang rapi di permukaan bukit, pegunungan, lembah, dan dataran pantai yang dialiri beratus juta kilometer kubik air berbentuk padat, cair, dan gas dalam gerakan dinamik yang kau tak habis kagumi ruwetnya: tegak lurus dari atas ke bawah, tegak lurus dari bawah ke atas miring terjal, miring landai beringsut dari kiri ke kanan, bergulir dari kanan ke kiri menembus permukaan daun, meluncuri serat-serat kayu mendaki akar, menaiki elevator serambut yang tersusun rapi dalam batang kayu menguap gaib lewat jendela nokhtakh-nohtakh mikroskopis lalu bergabung dalam substansi gas-gas yang tak dapat kau sentuh, kau cium, kau tatap, beribu-ribu klasifikasinya semua tersusun dalam komposisi yang begitu rumit tapi demikian teraturnya, yang memungkinkan kau menengadah ke atas sana, dan tersiuk berkata waduh biru bersih betul langit itu dan tengoklah serpihan-serpihan bulu domba berserak di angkasa dengarlah angin telah berganti baju jadi musik gesek instrumental yang melatarbelakangi semua  ini, dan kulihat kau menitikkan dua tetes cairan dari kedua sudut kelopak mata kau itu.

Puisi punya kepentingan besar terhadap air yang tersedia dalam berbagai ukuran bejana bumi mengalir melalui bermacam format saluran tanah dihuni oleh perenang-perenang sejati yang berukuran mulai dari sejarum peniti sampai sepunggung gunung dengan warna-warni panorama bawah laut yang luar biasa menakjubkan bayangan dan penafsiran dari angkasa penuh cahaya yang menaunginya yang di atasnya mengapung dan mengepak berjuta penerbang bersayap dengan gerakan matematis bercumbu dengan angin dan bercakap-cakap dengan cuaca.

Puisi punya kepentingan besar terhadap unggas-unggas itu yang ketika mengapung di atas sana hingga di dahan atau mengais tanah berdialog dengan seluruh makhluk penghuni bumi melata dia merangkak dia berjalan dua kaki dia menyusupi rumput dia menyelami tanah dia dan paru-paru mereka berdenyut, jantung mereka berdetak susunan syaraf mereka memberi sinyal-sinyal cendekia dalam sirkulasi zat asam yang siklusnya ruwet dapi dapat dijelaskan lewat bahasa apa pun dan susunan angka-angka apa pun sehingga dapat kita raba peradaban dan budaya.

Puisi mencatat semua, menyampaikan kembali dengan sentuhan yang indah dan penuh keterharuan mengulangi ini lewat daurnya sendiri-sendiri berabad lamanya beriringan denyut zikir tiada putusnya tegak lurus ke arah asal ini semua.

Puisi dengan penuh rasa khawatir, curiga dan cemburu menyaksikan dedaunan, pepohonan, unggas, ikan cuaca, zat asam, susuna syaraf, sungai, danau, lautan bercakap serak dan gagu dengan sesamanya bagai kawanan makhluk yang telah dilucuti kesempurnaannya dalam harmoni yang dulu tiada tertandingi. Huru-huruf kapital telah mengeja keserakahan, mengejek kemiskinan, mencetak kekerasan, melestarikan penindasan menyebarkan kejahilan, semua dalam bentuk baru yang tanpa bandingan sepanjang umur sejarah, menerjemahkannya ke setiap bahasa lengkap dengan petunjuk pelaksanaannya secara kolektif melakukan penghancuran peradaban mula-mula dalam kecepatan perlahan, dan kini dalam percepatan yang seperti tiada dapat tertahankan.

Puisi menangisinya, mencatatnya dengan huruf-huruf sedih, sesak nafas, geram, dan naik darah.

Puisi menepuk bahu dan mencoba mengingatkan.

Sapardi djoko damono: sajak, 2

Telaga dan sungai itu kulipat dan kusimpan kembali dalam urat nadiku. Hutan pun gundul. Demikianlah maka kawanan kijang itu tak mau lagi tinggal dalam sajak-sajakku sebab kata-kata di dalamnya berujud anak panah yang dilepas oleh Rama.

Demikianlah maka burung-burung tak betah lagi, karena di dalamnya tak ada lagi tersisa ruang. Tinggal beberapa orang pemburu yang terpisah dari anjing mereka menyusur jejak darah, membalikkan dan menggeser setiap huruf kata-kataku, mencari binatang korban yang terluka pembuluh darahnya itu.

Dodong djiwapradja: puisi

Kun fayakun saat penciptaan kedua adalah puisi tertimba dari kehidupan yang kau tangisi
Bumi yang kaudiami, laut yang kaulayari adalah puisi

Udara yang kauhirupi, air yang akuteguki adalah puisi

Kebun yang kautanami, bukit yang kaugunduli adalah puisi

Gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali adalah puisi

Dan dari setiap tanah yang kaupijak sawah-sawah yang kaubajak katakanlah: sajak

Puisi adalah manisan yang terbuat dari butir-butir kepahitan

Puisi adakah gedung yang megah yang terbuat dari butir hati yang gelisah

Susy aminah aziz:

Sajak I

Seperti anggur ranum di pepohonan gemericiknya air pegunungan menghilangkan dahaga kerongkongan seperti tuanya apel merah bergayutnya di dahan begitulah sajak, bagiku

Sajak II

Mengusik iiwaku desak mendesak resah di dalam
Menggugah ia jauh di dasar
Rasa yang kerdil hati yang gersang tersentuh lembut teramat ramahnya mesra di dada terjamah salamnya itulah sajak, bagiku

Sajak III

Membakar semangat peluh keringat jiwa rakyat
Mempesona diri gairah hidup api percintaan
Begitulah saja bunga-bunga kehidupan
Bagi siapa yang mendambakan adalah sebab nikmat bersajak lezat melekat

Syahril latif: dengan puisi

Dengan puisi yang ditulis oleh tangan-tangan ini lewat generasi terdahulu ke generasi kini ada berjuta puisi dan bakal terus ditulis puisi

Dan dunia mungkin tidak menjadi lebih baik kau tulis puisi atau tidak tapi kita: semua penyair terus saja menulis puisi memperjuangkan sesuatu yang lebih baik lebih segar, lebih indah, leih berkemanusiaan

Kemudian beberapa penyair mati yang terbaik dan kurang baik yaitu mereka yang menulis puisi dan penyair yang menulis puisi hari ini bisa saja mati mungkin karena sudah waktunya mati mungkin bunuh diri atau dimatikan

Lalu akan datang penyair-penyair lagi dan menulis lagi puisi dan dunia mungkin tidak menjadi lebih baik kau tulis puisi atau tidak tapi kita: semua penyair terus saja menulis puisi memperjuangkan sesuatu yang lebih baik lebih segar, lebih indah, lebih berkemanusiaan




Pages:123456789